Sebelum Coba Berhemat, Coba Kenali Dahulu Spending Triggers-mu

Pernahkah kamu tiba-tiba membeli banyak barang ketika berbelanja, padahal bahkan tidak masuk dalam daftar wish lists mu? Atau pernahkah kamu tiba-tiba membeli banyak barang yang sebetulnya secara fungsi dan bentuk sama namun hanya karena memiliki merk yang berbeda? Hal-hal tersebut seringkali terjadi dikarenakan adanya konflik dari segi sosial dan juga dorongan secara emosional.

Kepuasan menjadi hal yang yang teramat penting dan seakan menjadi hal utama untuk dipenuhi. Bisa ditebak, keputusan dalam hal pembelianpun bisa menjadi tidak rasional mengingat terjadi secara spontan. Dorongan yang kuat tersebut akhirnya jadi cenderung mengabaikan konsekuensi negatif yang ada. 

Betapapun rapihnya kamu melakukan pencatatan dalam pengelolaan uang rumah tangga, terkadang emosi dapat mendorong kamu untuk membuat keputusan keuangan yang akhirnya menghabiskan uangmu dengan percuma.

Pengeluaran emosional terjadi ketika kita menghabiskan lebih banyak uang untuk sesuatu karena didasari sifat-sifat mendasar kita sebagai manusia. Perasaan bosan, kesepian, khawatir atau mungkin karena kita merasa harus merayakan suatu keberhasilan menjadi beberapa faktor emosional dalam sebuah keputusan keuangan.  Salah satu penelitian memang bilang bahwa shopping bisa melonjakkan dopamine (hormon bahagia). Bahkan, ada penelitian yang mengatakan bahwa melakukan online shopping dapat menghasilkan dopamine yang lebih besar dibandingkan ketika kita berbelanja di toko. Namun apabila tidak hati-hati, maka kebahagiaan yang diciptakan tersebut akan dapat berakhir dengan segera dan bahkan berpotensi diakhiri dengan penyesalan.

Inilah yang secara sadar atau tidak dipengaruhi oleh “Spending Triggers” atau Pemicu Belanja. Apakah itu? Spending Triggers adalah suatu keadaan dimana kita merasa terpicu mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu yang belum tentu sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan kita. Pemicu-pemicu ini berakar pada emosi kita dan sebagian besar waktunya terjadi tanpa kita sadari.

Ada  beberapa jenis dari Spending Triggers yang perlu kamu ketahui, diantaranya:

1. Emotional Spending

Dalam hal ini, keputusan belanja dipengaruhi oleh momen stress, gembira, galau, iri, atau bisa juga didasari kebutuhan “self reward”. Apapun emosinya, kalau budgetnya belum ada ya seharusnya jangan belanja dulu. Mengapa bisa demikian? Sebagai contoh ketika kita dilanda stres, seolah-olah membeli barang membantu kita merasa lebih baik karena merasa seperti dapat mengendalikan aspek kehidupan kita. Sayangnya, pengeluaran berlebihan sering menyebabkan lebih banyak stres yang muncul di kemudian hari.

2. Guild Spendi

Biasa dilakukan karena adanya pengeluaran yang didasari oleh rasa bersalah dan oleh karena itu, pengeluaran tersebut seolah-olah wajib untuk dilakukan untuk mengobati rasa bersalah tersebut. Sebagai contoh, sudah merupakan hal yang umum di antara orang tua, atau yang sudah memiliki pasangan, ketika mereka tidak bisa menghabiskan cukup waktu dengan anak-anak atau dengan pasangan mereka. Akhirnya situasi ini sering menyebabkan pengeluaran yang berlebihan, di mana kamu jadi sering membeli hadiah yang mahal untuk orang yang mungkin kamu kecewakan tersebut.

Photo by freestocks on Unsplash

3. Emptiness spending

Mungkin kita sudah sering melihat banyak contoh orang yang mengalihkan rasa kesepian mereka, termasuk rasa kesedihan, dengan berbelanja untuk menghibur diri. Saat kita sedang merasa kosong, lalu akhirnya kita memutuskan untuk belanja, rasa ‘puas’ yang kita rasakan setelah belanja itu umumnya hanya bersifat sementara karena toh inti permasalahannya sendiri belum terobati secara tepat.

4. Frustration spending

Rasa frustrasi sampai juga sering mengarah pada pembelian secara impulsif, semisal dengan banyak mengalihkan hal tersebut dengan berseluncur ke marketplace belanja online dan akhirnya berujung dengan menghabiskan uang sebagai ajang pemuas diri. Ada istilah “Spending can bring a feeling of control to a situation that you don’t have any control over.” Penyelesaian masalah dalam satu situasi tersebut sering dirasa bisa dilakukan dengan berbelanja. Oleh karena itu, penting untuk belajar menjaga/mengelola emosi kita dengan baik agar bukan dengan belanja faktor yang dapat mengontrol emosimu, namun sebaliknya lah dengan mengontrol emosi maka kebiasaan dalam berbelanja menjadi dapat dikelola.

Lalu bagaimana cara untuk menjaga agar emosi kita tidak terjadi secara berlebihan apalagi berujung dengan kebiasaan dalam pengeluaran menjadi tidak terkontrol? Nah di artikel selanjutnya kita akan coba membagikan beberapa tips untuk dapat menekan pengeluaran sebagai efek dari pemicu-pemicu tadi dan harapannya dapat merubahnya ke sesuatu yang lebih bermanfaat.

Cek terus Blog dari Sipundi.id yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *