Waspadai Efek Financial Abstraction dari Kebiasan Stay at Home

Kondisi the New Normal seiring dengan adanya wabah Covid-19 ternyata tidak hanya bisa memberikan dampak terhadap kebiasaan dari sisi sosial saja, namun terhadap keuangan pun bisa terkena efeknya karena ada kebiasaan baru yang mungkin kita tidak sadari membuat diri kita menjadi lebih ‘royal’ untuk melakukan pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya diluar kebiasaan normal.

Salah satu hal yang mungkin tidak disadari menyangkut hal tersebut adalah kebiasaan pada saat bekerja dari rumah (work from home) ataupun stay at home dan kita melakukan hobi nge-game yang biasanya hanya dilakukan sekali-kali ketika sedang berlibur saja.

Saat konsol PS2 dulu booming, kita biasa bermain GTA San Andreas.

Photo by Techdator.net

Ketika bermain game ini, hampir semua orang menggunakan cheat ketika bermain, terutama cheat uang, dan darah. Saat menggunakan cheat itu uang kita bertambah dan kita sama sekali tidak terlalu peduli dengan uang kita yang bertambah meski hanya dengan menekan beberapa tombol. Kita pun juga menjadi tidak peduli dengan berapa banyak uang yang berkurang ketika kita membeli baju, bercukur, mengecat mobil, dan lain sebagainya. Kemudian, kita juga bisa menggunakan cheat lain seperti cheat mobil. Wah, mudah sekali mendapat mobil di sebuah video game ya karena tinggal mencuri saja. Konsekuensinya bisa jadi bukan hanya di video game, karena di kehidupan nyata bisa jadi muncul sifat dan rasa ego untuk melakukan sesuatu seenaknya sendiri saja. Karena mendapatkan segala sesuatu dengan mudah juga, kita menjadi dengan gampangnya merusak atau dengan sengaja meledakkannya dengan bom yang kita punya.

Flashback ke masa kecil dahulu, kita juga biasa bermain permainan board game tradisional papan Monopoli. Beberapa dari kita bisa membeli banyak properti setiap kali kita berhenti. Bahkan beberapa ada  yang tidak terlalu peduli dengan berapa uang yang dimainkan.

Sadarkah semua perilaku tersebut bisa membuat manusia mengalami financial abstraction. Kondisi dimana hubungan kita terhadap uang sudah berubah, entah memandang hal itu sebagai sesuatu yang nyata atau tidak, sehingga menjadikan uang seakan tidak memiliki value lagi.

Melihat kasus diatas dan berbagai contoh dari banyak game populer lainnya, maka banyak sekali orang yang berpikiran kalau uang yang mereka gunakan pada sesuatu yang mereka mainkan bukanlah uang asli. Jadi dengan seenaknya sendiri mengeluarkan uang untuk memenuhi hasrat tanpa memikirkan konsekuensinya.

Permasalahannya, banyak masyarakat sekarang yang terjerumus ke dalam sebuah fenomena financial abstraction di dunia nyata. Metode pembayaran sekarang dimana sudah didominasi oleh sistem cashless menjadikan uang yang masyarakat punya hanya tersimpan dalam sebuah akun digital. Sehingga uang yang ada hampir nampak seperti yang ada pada sebuah video game, hanya angka digital wujudnya tidak terlihat.

Pada 2014, korporasi rakasaksa Apple memperoleh pemasukan sebesar $32.5 juta hanya dari in-app purchase pada aplikasi anak-anak. Bukan orang tuanya yang mengeluarkan uang, tapi anak-anak yang melakukannya sendiri karena mereka tidak sadar bahwa pembelian yang mereka lakukan menggunakan handphone orang tuanya adalah uang nyata dan dapat menimbulkan konsekuensi di dunia nyata.

Photo by Disneyfanatic.com

Pada 2013, Disney menggelontorkan uang sebesar $1 triliun untuk mengeluarkan produk baru mereka bernama Magic Band, dimana seorang anak dapat melakukan pembelian tiket, kamar hotel, photo pass, dan pembayaran lainnya, hanya dengan gelang yang sudah terkoneksi dengan kartu kredit orang tua. Karena mereka tidak memegang wujud uang secara fisik, para anak beserta orang tuanya pada akhirnya mengalami finansial abstraction saat berlibur ceria di Disney World. Dompet para orang tua pun semakin menipis tanpa disadari.

Sekarang, tingkat konsumsi masyarakat bisa menjadi lebih tinggi. Karena Cashless kah? Tentu bisa menjadi salah satu penyebabnya. Mulai dari kartu kredit, bermacam-macam dompet digital seperti OVO, GoPay, dan DANA, sampai saat ini sudah dimanjakan oleh sistem M-Banking juga. Cara uang untuk keluar pun menjadi semakin mudah.

Kalau sudah begitu, pembelian barang terasa seperti meminta kepada kerang ajaib, cukup pencat-pencet gadget, barang sudah sampai di depan pintu. Wujud uang sama sekali tidak terlihat selama transaksi itu. Hanya angka, layaknya kita bermain game yang sebelumnya sudah dijabarkan. Tidak perlu lagi mengeluarkan berlembar-lembar uang dan menghitungnya, transaksi pun sudah dapat dilakukan, ujungnya? Uang terkuras tanpa kita sadari sepenuhnya. Masyarakat pun banyak yang tak sadar bahwa dirinya mengalami fenomena  financial abstraction.

Tentu, tulisan ini dapat menjadi peringatan untuk kebiasan-kebiasan baru yang disadari ataupun tidak disadari dapat mempengaruhi kesehatan keuangan pribadi dan keluarga. Waspadai hal-hal yang dilakukan dirumah yang malah dapat memberikan dampak negatif terutama dari sisi kebiasaan dalam melakukan pengeluaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *