Tren Harga Emas; Pantas Jadi Investasi Agresif?

Emas atau Logam Mulia (LM) seolah-olah kembali menjadi trending topic terkait pembahasan kepemilikan aset yang saat ini gemar diburu oleh banyak kalangan. Tren kenaikan yang masih bergerak cukup signifikan semenjak tahun lalu membuat banyak orang bertanya, apakah emas sudah beralih menjadi instrumen investasi yang dapat memberikan return signifikan dan bahkan tergolong agresif?

Pada umumnya, emas  tergolong sebagai instrumen yang relatif aman serta harganya bergerak cukup stabil dalam kondisi buruk sekalipun, sehingga sering disebut sebagai safe haven. Selain itu, instrumen ini relatif aman ketika berhadapan dengan inflasi pada kurun waktu menengah dan panjang. Karakteristiknya yang juga mudah untuk dikonversi menjadi uang tunai menambah daya pikatnya yang selama ini sering dibalut dalam bentuk perhiasan.

Seringkali para orang tua (khususnya para ibu), selain menggunakan emas sebagai barang untuk mempercantik diri, kerap juga menjadikan perhiasan emasnya sebagai media untuk berjaga-jaga. Disinilah konsep dalam mengelola keuangan mendasar, yaitu kebutuhan untuk hal-hal yang sifatnya mendesak, sudah cukup mengena untuk kalangan yang belakangan kembali dikenal dengan sebutan emak-emak ini.

Dalam perencanaan keuangan, ada satu hal mendasar yang wajib dipersiapkan dan dimiliki secara proporsional berdasarkan kondisi masing-masing orang. Hal tersebut adalah kebutuhan akan Dana Darurat (Emergency Fund). Untuk menyamakan persepsi terkait hal ini, maka kebutuhan darurat disini bukan ketika kita sedang dihadapkan dengan Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) dimana banyak juga program cicilan 0% selama 12 bulan atau diskon 50% pada saat midnight sale loh ya.

Lebih esensial lagi, kebutuhan darurat disini akan sangat dirasakan ketika pada saat-saat seperti sekarang ini, dimana pelemahan ekonomi sangat terasa nyata adanya yang ditandai daya beli yang menurun, perusahaan yang banyak merumahkan karyawan, cabang-cabang dan kantor yang tutup, ditambah hantaman force majeure berupa wabah pandemik Coronavirus atau Covid-19 (Virus Korona), seolah membuat segalanya menjadi semakin rumit dan menyulitkan saat ini.

Belum lagi angka pengangguran yang berpotensi bertambah, mengingat omzet perusahaan yang mayoritas mengalami penurunan, membuat mereka mau tidak mau harus bisa mendayagunakan karyawan yang sudah ada dan berstatus tetap. Besar kemungkinan yang berstatus kontrak atau dari pihak ketiga (outsourcing) akan menjadi korbannya terlebih dahulu untuk tidak lagi dipekerjakan. Tentu kita mengharapkan bukan salah satu diantara kita yang menjadi korbannya, namun itulah realita yang siap tidak siap harus dihadapi.

Data Kenaikan Harga Emas

Kembali kepada posisi si emas ini pada portfolio aset dalam keuangan pribadi kita. Tentu akan lebih enak membicarakannya ketika kita mengulas sedikit data terkait hal ini ya.

Sumber Grafik: www.indogold.com

Apabila kita melihat grafik kenaikan harga emas (Logam Mulia 99.9%) selama satu tahun terakhir, harga jual emas (buyback) pada tanggal 28 Maret 2019 adalah sebesar Rp. 601.500,- dan saat ini tanggal 27 Maret tahun 2020, harga jual kembalinya menjadi Rp.814.500. Dari sini bisa dilihat bahwa terdapat kenaikan signifikan harga jual sebesar 35% dibanding tahun lalu. Fantastis!

Lalu bagaimana jika saya tarik data mundur lagi trennya ke harga tiga tahun lalu, dimana harga jual emas pada tanggal 28 Maret 2017 adalah sebesar Rp. 534.500,- dan ternyata apabila dibandingkan sekarang, kenaikannya adalah sebesar 53.38% selama 3 tahun atau sekitar 17,46 persen per-tahunnya. Cukup lumayan juga bukan?

Sekarang saya coba tarik mundur kembali harga emas di tanggal 24 Maret 2015 atau sekitar lima tahun yang lalu, apabila saya membeli emas saat itu, harganya adalah Rp. 544.000, sedangkan harga jualnya Rp.488.000 per 1 gram. Dengan demikian, kenaikan yang bisa saya dapat apabila saya membeli emas lima tahun lalu dan menjualnya saat ini, saya bisa mendapatkan keuntungan sebesar 49,72% atau secara rata-rata tahunan kenaikannya sebesar 9,94%. Nah, semakin panjang saya tarik jangka waktu buy and hold nya, ternyata jadi semakin kecil juga rata-ratanya.

Bagaimana jika kita membeli emas di tanggal 24 Maret 2015 dan menjualnya dua tahun kemudian pada 2017 seperti data diatas? Maka pembelian saya sebesar Rp.544.000 akan dihargai buybacknya sebesar Rp.534.000 alias menjadi minus (-) 1.87% dibanding dua tahun sebelumnya!. Ternyata uang Anda juga dapat berkurang dengan penempatan di emas walaupun didiamkan selama dua tahun. Lalu apa dasar orang menyebut emas instrumen yang aman dan kenaikannya stabil?

Oke mari ambil beberapa poin penting yang dapat kita ambil dari data riil tersebut, bahwa;

  • Kenaikan rata-rata harga Emas beberapa tahun belakangan ditopang oleh kenaikan signifikan harganya beberapa waktu terakhir (special case event)
  • Emas seringkali menjadi opsi pemindahan jenis aset ketika instrumen lain dirasa tidak aman oleh investor atau terjadi gonjang ganjing perekonomian
  • Dalam jangka pendek, penempatan dana pada instrumen emas dapat terkendala pada selisih harga jual kembali (buy back) yang berpotensi masih lebih kecil dibanding harga belinya

Lalu harus bagaimana menyikapi portofolio aset kita dalam instrumen emas (Logam Mulia)? Tentu kalau Anda kebetulan membeli emas selama kurun waktu 1 tahun terakhir, akan berkesimpulan bahwa emas merupakan instrumen investasi yang sangat menggiurkan. Namun bagaimana apabila ternyata Anda berada pada kasus tahun 2015 ke 2017 tadi? Tentu jawabannya bisa jadi berbeda.

Dalam mengelola keuangan pribadi, banyak ragam instrumen keuangan yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan keuangan Anda. Sebagai bocoran, emas dapat menjadi salah satunya. Namun sebagai catatan, kembalikanlah emas sebagai nature-nya yaitu pengganti dana setara tunai Anda yang dapat diperuntukkan sebagai Dana Darurat karena sifatnya yang likuid dan mudah diakses. Namun, tetap perlu berhati-hati pada risiko penempatannya mengingat bentuknya yang fisik, akan terdapat risiko kehilangan ataupun berpindah tangan tanpa adanya data kepemilikan yang mengikat.

Pada jangka menengah dan panjang, kepemilikan emas dengan keunggulan nilai riilnya dapat menjadi pelindung nilai (hedging) atas total portfolio aset Anda. Penerapannya adalah ketika sebagian besar aset di portofolio investasi Anda nilainya sedang turun saat ini, ternyata emas dapat melindungi dan menjaga nilai kekayaan secara keseluruhan.

Sebagai tambahan, dengan beberapa data yang sudah saya berikan tadi terkait pergerakan harga emas, maka jangan pernah membeli sesuatu atas dasar ikut-ikutan atas tren yang sedang heits (berlangsung) karena apabila tidak dikembalikan pada pengetahuan atas data historis serta kebutuhannya, ujungnya malah bisa membuat Anda kapok untuk berinvestasi.

Selanjutnya saya akan coba bahas keunggulan dan kelemahan dalam menempatkan dana kita ke instrumen emas ya. Stay tuned!

Muhammad Kharisma

Co-Founder dan Senior Advisor Sipundi.id

Ingin mendapatkan info menarik seputar keuangan, yuk join channel kita di telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *